Rabu, 17 Desember 2014

nenek. inspirasi yang tersembunyi

lama sudah nenek terbaring di tempat tidurnya, tak mampu lagi menyambangi rumah saya yang hanya berjarak 10 meter dari rumahnya. Saya masih sangat hafal kebiasaannya sewaktu beliau masih sehat, setiap pagi sekitar jam 9 nenek datang kerumah kemudian menghampiri salah satu dari kami untuk menanyakan dimana letak koran pagi hari itu, dan kemudian setelah koran pagi itu ia dapati, segera ia menempatkan pantat keriputnya dengan tulang punggung yang mengkerut itu di kursi yang ada di depan teras rumah kami. Kemudian dunianya hanyalah miliknya, bermesraan dengan berita berita hangat yang tertulis dalam surat kabar.
semangat dan mata yang masih amat sangat tajam bila mengingat usianya yang telah menginjak 83 tahun.


nenek. Kami memanggilnya "emak".
pernah suatu ketika keluarga kacau saya membuat lelucon tentangnya. Tentang emak. Ayah membuka pembicaraan kala itu, saat saya, ibu, dan ketiga adik saya berkumpul dalam forum lelucon tolol. Dengan wajah meyakinkan ayah bertanya pada kami semua, " kalian tau ga kenapa emak masih bugar dan sehat sampai saat ini ?" Adik menjawab dengan penuh penasaran dengan tampang polos bercampur goblok " engga, emang apa rahasianya Yah ?" Dengan sok tau saya berteori " iya lah orang zaman dulu kan sering jalan kaki, dan jalan kaki adalah olah raga yang paling baik jadi emak bisa sehat dan panjang umur seperti sekarang, lalu emak juga rajin membaca, jadi matanya terlatih, dan emak jauh dari teknologi yang gampang merusak mata sehingga kesehatan matanya tetap terjaga." Dan dengan tampang polos cenderung bloonnya itu ia menjawab"emak itu dulu seorang atlet." Sontak muka keheranan kami muncul serempak tanpa komando seraya bertanya "Masa ?!!" Iya, dulu emak itu atlet ping-pong (tenis meja ). Kalian ga percaya ? Liat aja buktinya badannya masih bungkuk sampe sekarang." Ayah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi bodoh kami yang telah tertipu oleh bualan durhakanya itu.
saya tak mau kalah. Saya timpali pernyataan ayah dengan semangat" emak juga bisa jadi pelari tercepat di jalan menurun, caranya tinggal membungkukkan dirinya kemudian menggelinding. Hahaha"


tapi suatu kali saya harus memanggil ibu yang sedang menemani emak dikamarnya, karena merasa tidak enak saya terpaksa menemani emak mengobrol. Huaaah.. Ocehan emak mengenai setumpuk masa lalunya. Malas rasanya memdengar cerita yang sudah berulang kali saya dengarkan, sampai saya bisa menebak apa kata yang akan keluar dari bibirnya. Tentang teman sebayanya yang sudah punah, tentang satu per satu anaknya, kebiasaan ayah saya, sampai kisah saya sewaktu kecil. Semua iya ceritakan dengan begitu fasih dan tanpa sedikit pun detail yang dilewatkan. Yah... Saya mulai bosan dengan segala cerita nostalgianya.
namun saya sedikit terhenyak ketika emak menunjukan tumpukan buku disamping tempat tidurnya. Beliau bilang buku buku itulah yang menemaninya setiap saat, terutama ketika tidak ada orang yang menemaninya.
setumpuk bukubbernafaskan agama, al-Quran , tak terlewatkan dibacanya. Dengan usia 83 tahun, emak masih mampu membaca tanpa kacamata. Sungguh mukzizat tuhan tak lagi bisa terelakkan dengan mennyaksikannya sendiri.
emak bercerita, kadang ia merasa kesal. Kesal karena tak lagi bisa melakukan aktifitas rutin yang selalu emak kerjakan setiap harinya. Emak kesal melihat halaman yang kotor. Namun apa daya, kini emak sudah sulit untuk berjalan. Emak kesal melihat atap rumahnya yang bocor. Namun untuk memperbaikinya sendiri adalah sebuah kemustahilan. Sungguh malu saya rasakan ketika emak masih memiliki keresahahn. Keresahan karena emak merasa tak mampu melakukan apa-apa, dirinya merasa tak berguna. Sungguh ini cambuk tajam yang memicu semangatku.


hal lain, emak bercerita tentang seseorang yang kami panggil odeng. Yang dulu, adalah preman di daerah kami, yang kerjanya mabuk-mabukan. Ganja, sabu-sabu, pil ekstasi, dan sebagainya ia coba. Emak menceritakan dengan rinci tentang masa lalunya yang kelam itu. Hingga deskripsi rinci ketika emak melihatnya berguling-guling karena sakaw.
sekarang ia berubah, menjadi lebih religius. Bahkan dibanding guru-guru ngaji disekitar kami. Ia hampir tidak pernah absen untuk mengumandangkan adzan di masjid samping rumahku.
dan satu hal yang amat sangat menyentuh hatiku. Dengan segala ketulusan hati kulihat dari mata emak. Dengan amat sangat tulus beliau mendoakan odeng. Ingin saya teteskan air mata rasanya ketika mendengar doa yang keluar tulus dari sela-sela bibir emak yang keriput itu. Padahal mungkin, emak pernah menjadi korban dari kelakuan odeng ketika ia masih beringas.
ketulusan. Keikhlasan emak yang harus aku dalami. Bagaimana mungkin seorang mau mendoakan orang lain dengan amat sangat tulus. Padahal ia pernah terlukai oleh orang yang didoakannya itu. Kemuliaan hati emaklah yang menjadi pertanyaan besar dalam kepala saya. Alasan apa yang mampu membuatnya begitu tulus, dan penuh kasih ?

Selasa, 12 Februari 2013

tumbuh

hari demi hari berganti, hingga tak terasa kami telah tumbuh dewasa kini.
mereka tumbuh sehat dengan segudang prestasi yang mereka dapat,
sementara aku masih disini, tersendat, dengan sejuta iri dalam dada,
dengan semua mimpi yang terkungkung suasana.

dengan semua realita yang ada, aku berdiri disini. menantang semua halang rintang
dan selalu kuketahui, mereka menungguku, menungguku merengkuh sukses yang kumau.

Senin, 03 Desember 2012

Terima Kasih Saudaraku

sekitar akhir tahun 2010, saya pernah berbincang dengan seorang sepupu saya yang telah saya anggap sebagai kakak saya sendiri, beliau bekerja di sebuah perusahaan, sedangkan saya waktu itu baru masuk salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Bandung.

Beliau menceritakan sebagian perjalanan hidupnya kepada saya, dengan seksama saya simak setiap kata yang beliau lontarkan kala itu.
hingga beliau berkata " saya mungkin telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, namun saya menyesal karena  dulu saya menolak ketika saya disuguhi kesempatan untuk berkuliah. jadi jangan kamu sia-siakan kesempatanmu sekarang. belajarlah dari kesalahanku. " kira-kira itulah yang beliau katakan.

entah apa maksudnya, saya tak mengerti.
kemudian semua kembali berjalan seperti biasa, saya masih berkuliah dengan asal-asalan. menyia-nyiakan waktu seakan waktu tak akan berlalu.
dan alhasil, baru satu tahun saya rasakan bangku kuliah, saya pun harus " lulus " lebih awal.

lama sudah saya tak berjumpa sepupu saya itu.
sampai suatu ketika saya bertemu kembali, namun dalam suasana yang tidak mengenakkan. sepupu saya didiagnosa terkena kanker lidah. namun ia masih sempat bercanda memperlihatkan benjolan di bawah lidahnya, kemudian berkata " nih liat. ini karena rokok. makanya stop ngrokok! " sambil tertawa mencoba menyinggung saya yang kala itu tengah menghisap batang rokok. saya hanya tersenyum.

kemudian setelahnya saya menjalani kehidupan seperti biasa,
namun sekitar beberapa bulan setelah pertemuan itu, akhirnya sepupu saya meninggal dunia.

kini, saya telah kembali menjajal studi di salah satu perguruan tinggi negeri swasta di Kota Bandung.
dan disini, saya akan bersungguh-sungguh. semua kenangan dan sebaris kalimat dari Almarhum, menyadarkan saya. ini amanahnya.

Terima kasih sepupuku, kakakku. Fajar ( Alm. )
seraya berdoa untukmu.
aamiin.

Senin, 24 September 2012

Phobia cek-up

Ibu,
suatu ketika ibu merasa tidak enak badan. lalu saya usulkan untuk memeriksakan kondisinya ke dokter umum yang berpraktek dekat kediaman kami. tanpa banyak berpikir Ibu mau saya ajak. ini tidak seperti biasanya.
kami pun pergi menuju tempat praktek si dokter. setelah mengantre kami pun masuk ke ruang periksa.
Ibu berbaring di tempat tidur yang telah disiapkan. kemudian dokter mendiagnosa. katanya" Ibu sabar ya "
kemudian ia melanjutkan :
Ibu menderita beberapa penyakit, yaitu :
penyakit jantung
penyakit lever
maag kronis
penyakit paru-paru
urat kejepit ( yang sewaktu-waktu bisa menjadi kelumpuhan )
penipisan bola mata ( yang sewaktu-waktu bisa mengakibatkan kebutaan )

walah-walah saya sampai bingung mendengar penjelasan dokter yang satu ini.
namun tidak demikian dengan Ibu. entah apa yang dia rasakan. mungkin takut. mungkin sedih. entahlah.
dan semenjak hari itu ibu tidak pernah mau lagi diperiksakan kesehatannya ke dokter manapun.

ya sudahlah Bu, biarpun jutaan penyakit menggerogoti tubuhmu, saya akan selalu mendampingimu, menyehatkanmu. ya karena kamu Ibuku.

Jumat, 07 September 2012

Sikutmu Di Pahaku.

mentari mulai condong ke arah barat, jingga cahayanya bangkitkan khayalan. ketenangan, kedamaian.
hari itu kami beranjak pulang. ya kami. saya bersama atasan dan seorang rekan, dengan sebuah mobil kecil kami lintasi jalanan yang tak rata menuju pondok peristirahatan.

tiba-tiba anganku melayang melamunkan yang entah apa.
namun seketika atasan kami yg duduk di kursi penumpang depan memposisikan kursinya bersiap untuk berbaring melepas lelah. aku yang duduk di belakang sendirian, tak menyangka apa yang akan dia lakukan. seketika sikutnya mencari tempat bersandar. dan tampaknya sikutnya menemukan tempat yang sempurna. di paha saya. ya di paha saya. dengan menekankan sikut dia tampak tenang. dan habislah saya menahan teriakan.sepanjang jalan.

Rabu, 27 Juni 2012

cobaan datang lagi

kali ini, saya tengah menjalani hari libur dari pekerjaan saya.
seharusnya ini adalah saat-saat yang menyenangkan bagi saya.
awalnya memang seperti itu, namun setelah beberapa hari saya jalani, ini adalah liburan terburuk yang pernah saya alami.

saya memutuskan untuk pulang ke Bandung, ke rumah orang tua saya.
agar saya bisa merasa lebih tenang.
namun kenyataannya, saya malah harus mendapati kejadian yang sangat tidak mengenakan hati, bahkan mungkin saja dapat menghancurkan keutuhan keluarga saya.
tak perlu saya ceritakan panjang  lebar disini.

intinya, saya mendapati keadaan yang membingungkan saya,
entah tindakan apa yang harus saya lakukan.
semua keadaan ini membuat saya tak mampu berpikir jernih.

mungkin ini adalah salah satu cobaan yang Tuhan berikan.
dan ini terasa sangat berat.

yah mungkin Tuhan berikan Ujian ini agar saya mampu menyikapinya dengan dewasa, bukan dengan emosi semata.

Baiklah, ini akan kuselesaikan dengan lembut dan indah. bukan dengan keluh kesah. bukan dengan pedang bersimbah darah.

Selasa, 19 Juni 2012

Pengorbanan Tiada Tara

tadi malam, saya mendapat begitu banyak pelajaran berharga tentang pengorbanan cinta.
ini cerita nyata. fakta. tanpa dusta.

seperti yang telah saya ceritakan di posting sebelumnya,
kini berlanjut lagi.
kemarin sore, teman saya pulang membawa seorang wanita muda yang katanya sudah dianggap seperti adiknya sendiri. buat saya, ya itu terserah saja.
tapi tidak demikian menurut mantan isterinya. di begitu marah, meski tidak dia ungkapkan. namun tampak jelas di matanya.
meskipun dia adalah mantan isteri teman saya, namun ia begitu menyayangi teman saya ini, sampai sampai ia nekad melarikan diri dari rumah orang tuanya di Bandung untuk mengurus keluarga mantan suaminya itu di Pangandaran.
dan sesampainya di Pangandaran ia hanya hidup dari uang yang ia hasilkan sendiri, bukan dari si mantan suami. padahal ia harus menghidupi mantan suaminya, ketiga anak mantan suaminya, dan satu anak mereka, juga dirinya sendiri.
sang mantan suami memang malas untuk bekerja, sekalinya mendapat pekerjaan, dan mendapat uang, ia habiskan sendiri tanpa memikirkan keadaan anak anaknya yang seharusnya ia urus.

Sungguh keadaan yang sangat ironis.
namun saya belajar dari sang mantan isteri. tentang pengorbanan yang telah ia lakukan, meski tidak dihargai oleh si mantan suami.
keadaan yang sangat sulit dijalani oleh seorang manusia yang biasa saja.

saya mengerti, inilah pengorbanan cinta yang sesungguhnya. yang membutakan mata hati, yang melumpuhkan logika.