lama sudah nenek terbaring di tempat tidurnya, tak mampu lagi menyambangi rumah saya yang hanya berjarak 10 meter dari rumahnya. Saya masih sangat hafal kebiasaannya sewaktu beliau masih sehat, setiap pagi sekitar jam 9 nenek datang kerumah kemudian menghampiri salah satu dari kami untuk menanyakan dimana letak koran pagi hari itu, dan kemudian setelah koran pagi itu ia dapati, segera ia menempatkan pantat keriputnya dengan tulang punggung yang mengkerut itu di kursi yang ada di depan teras rumah kami. Kemudian dunianya hanyalah miliknya, bermesraan dengan berita berita hangat yang tertulis dalam surat kabar.
semangat dan mata yang masih amat sangat tajam bila mengingat usianya yang telah menginjak 83 tahun.
nenek. Kami memanggilnya "emak".
pernah suatu ketika keluarga kacau saya membuat lelucon tentangnya. Tentang emak. Ayah membuka pembicaraan kala itu, saat saya, ibu, dan ketiga adik saya berkumpul dalam forum lelucon tolol. Dengan wajah meyakinkan ayah bertanya pada kami semua, " kalian tau ga kenapa emak masih bugar dan sehat sampai saat ini ?" Adik menjawab dengan penuh penasaran dengan tampang polos bercampur goblok " engga, emang apa rahasianya Yah ?" Dengan sok tau saya berteori " iya lah orang zaman dulu kan sering jalan kaki, dan jalan kaki adalah olah raga yang paling baik jadi emak bisa sehat dan panjang umur seperti sekarang, lalu emak juga rajin membaca, jadi matanya terlatih, dan emak jauh dari teknologi yang gampang merusak mata sehingga kesehatan matanya tetap terjaga." Dan dengan tampang polos cenderung bloonnya itu ia menjawab"emak itu dulu seorang atlet." Sontak muka keheranan kami muncul serempak tanpa komando seraya bertanya "Masa ?!!" Iya, dulu emak itu atlet ping-pong (tenis meja ). Kalian ga percaya ? Liat aja buktinya badannya masih bungkuk sampe sekarang." Ayah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi bodoh kami yang telah tertipu oleh bualan durhakanya itu.
saya tak mau kalah. Saya timpali pernyataan ayah dengan semangat" emak juga bisa jadi pelari tercepat di jalan menurun, caranya tinggal membungkukkan dirinya kemudian menggelinding. Hahaha"
tapi suatu kali saya harus memanggil ibu yang sedang menemani emak dikamarnya, karena merasa tidak enak saya terpaksa menemani emak mengobrol. Huaaah.. Ocehan emak mengenai setumpuk masa lalunya. Malas rasanya memdengar cerita yang sudah berulang kali saya dengarkan, sampai saya bisa menebak apa kata yang akan keluar dari bibirnya. Tentang teman sebayanya yang sudah punah, tentang satu per satu anaknya, kebiasaan ayah saya, sampai kisah saya sewaktu kecil. Semua iya ceritakan dengan begitu fasih dan tanpa sedikit pun detail yang dilewatkan. Yah... Saya mulai bosan dengan segala cerita nostalgianya.
namun saya sedikit terhenyak ketika emak menunjukan tumpukan buku disamping tempat tidurnya. Beliau bilang buku buku itulah yang menemaninya setiap saat, terutama ketika tidak ada orang yang menemaninya.
setumpuk bukubbernafaskan agama, al-Quran , tak terlewatkan dibacanya. Dengan usia 83 tahun, emak masih mampu membaca tanpa kacamata. Sungguh mukzizat tuhan tak lagi bisa terelakkan dengan mennyaksikannya sendiri.
emak bercerita, kadang ia merasa kesal. Kesal karena tak lagi bisa melakukan aktifitas rutin yang selalu emak kerjakan setiap harinya. Emak kesal melihat halaman yang kotor. Namun apa daya, kini emak sudah sulit untuk berjalan. Emak kesal melihat atap rumahnya yang bocor. Namun untuk memperbaikinya sendiri adalah sebuah kemustahilan. Sungguh malu saya rasakan ketika emak masih memiliki keresahahn. Keresahan karena emak merasa tak mampu melakukan apa-apa, dirinya merasa tak berguna. Sungguh ini cambuk tajam yang memicu semangatku.
hal lain, emak bercerita tentang seseorang yang kami panggil odeng. Yang dulu, adalah preman di daerah kami, yang kerjanya mabuk-mabukan. Ganja, sabu-sabu, pil ekstasi, dan sebagainya ia coba. Emak menceritakan dengan rinci tentang masa lalunya yang kelam itu. Hingga deskripsi rinci ketika emak melihatnya berguling-guling karena sakaw.
sekarang ia berubah, menjadi lebih religius. Bahkan dibanding guru-guru ngaji disekitar kami. Ia hampir tidak pernah absen untuk mengumandangkan adzan di masjid samping rumahku.
dan satu hal yang amat sangat menyentuh hatiku. Dengan segala ketulusan hati kulihat dari mata emak. Dengan amat sangat tulus beliau mendoakan odeng. Ingin saya teteskan air mata rasanya ketika mendengar doa yang keluar tulus dari sela-sela bibir emak yang keriput itu. Padahal mungkin, emak pernah menjadi korban dari kelakuan odeng ketika ia masih beringas.
ketulusan. Keikhlasan emak yang harus aku dalami. Bagaimana mungkin seorang mau mendoakan orang lain dengan amat sangat tulus. Padahal ia pernah terlukai oleh orang yang didoakannya itu. Kemuliaan hati emaklah yang menjadi pertanyaan besar dalam kepala saya. Alasan apa yang mampu membuatnya begitu tulus, dan penuh kasih ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar