tadi malam, saya mendapat begitu banyak pelajaran berharga tentang pengorbanan cinta.
ini cerita nyata. fakta. tanpa dusta.
seperti yang telah saya ceritakan di posting sebelumnya,
kini berlanjut lagi.
kemarin sore, teman saya pulang membawa seorang wanita muda yang katanya sudah dianggap seperti adiknya sendiri. buat saya, ya itu terserah saja.
tapi tidak demikian menurut mantan isterinya. di begitu marah, meski tidak dia ungkapkan. namun tampak jelas di matanya.
meskipun dia adalah mantan isteri teman saya, namun ia begitu menyayangi teman saya ini, sampai sampai ia nekad melarikan diri dari rumah orang tuanya di Bandung untuk mengurus keluarga mantan suaminya itu di Pangandaran.
dan sesampainya di Pangandaran ia hanya hidup dari uang yang ia hasilkan sendiri, bukan dari si mantan suami. padahal ia harus menghidupi mantan suaminya, ketiga anak mantan suaminya, dan satu anak mereka, juga dirinya sendiri.
sang mantan suami memang malas untuk bekerja, sekalinya mendapat pekerjaan, dan mendapat uang, ia habiskan sendiri tanpa memikirkan keadaan anak anaknya yang seharusnya ia urus.
Sungguh keadaan yang sangat ironis.
namun saya belajar dari sang mantan isteri. tentang pengorbanan yang telah ia lakukan, meski tidak dihargai oleh si mantan suami.
keadaan yang sangat sulit dijalani oleh seorang manusia yang biasa saja.
saya mengerti, inilah pengorbanan cinta yang sesungguhnya. yang membutakan mata hati, yang melumpuhkan logika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar